Kamis, 20 Agustus 2015

Kita adalah Kita


Berjalan berlari menggapai mimpi
Mimpi indah berhiaskan bunga-bunga harum bak kasturi
Menatap indahnya bidadari sorga berbalut sutra
Saat itu tak pernah kita berfikir memalingkan muka tanda tak suka
Apalagi berbelok sekedar memungut sesuatu yang tak berharga dari dunia
Namun, perjuangan laksana gunung berbatu, berduri dan berliku
Tempat setan-setan berpesta dan berfoya
Menutupi segala penjuru mata angin
Angin yang membawa rahmat bagi semesta
Saat itu, cerah berganti mendung
Cahaya berganti gulita
Terang berganti gelap
Dan ruh berganti nafsu
Bila nafsu telah bertahta
Pada setiap titik darah yang memerah
Urat yang mengerat
Tulang yang malang
Maka kita bukanlah kita
Muslim berbuat dolim
Mukmin tapi sentimen
Ihsan yang tak hasan
Saat itu setan tertawa sembari berjoget laksana sepasang kekasih dimabuk  asmara
Di tangannya ada nampan berisi darah yang disulap menjadi susu
Kita yang tak berhati akan mati
Mati karena darah setan yang mengalir pada setiap sendi
Saat itu kita hanya perlu menunduk memandangi batu-batu kecil di hadapan kita
Dengan membaca basmalah ambillah batu-batu kecil itu
Kemudian seperti Ibrahim lemparkan ke muka setan
Setan yang menjanjikan kemuliaan bagi para pecinta dunia
Setan yang menjanjikan keabadian bagi para pendosa
Setan yang menjanjikan kehinaan bagi para pelaku kebaikan
Setan yang tak pernah bersyukur
Setan yang tak pernah puas
Akhirnya , kita bagaikan bayi yang terlahir kembali
Menyongsung kehidupan baru di masa yang baru
Dan pada akhirnya kita adalah kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar