Mimpi indah berhiaskan
bunga-bunga harum bak kasturi
Menatap indahnya bidadari
sorga berbalut sutra
Saat itu tak pernah kita
berfikir memalingkan muka tanda tak suka
Apalagi berbelok sekedar
memungut sesuatu yang tak berharga dari dunia
Namun, perjuangan laksana
gunung berbatu, berduri dan berliku
Tempat setan-setan berpesta
dan berfoya
Menutupi segala penjuru mata
angin
Angin yang membawa rahmat
bagi semesta
Saat itu, cerah berganti
mendung
Cahaya berganti gulita
Terang berganti gelap
Dan ruh berganti nafsu
Bila nafsu telah bertahta
Pada setiap titik darah yang
memerah
Urat yang mengerat
Tulang yang malang
Maka kita bukanlah kita
Muslim berbuat dolim
Mukmin tapi sentimen
Ihsan yang tak hasan
Saat itu setan tertawa
sembari berjoget laksana sepasang kekasih dimabuk asmara
Di tangannya ada nampan
berisi darah yang disulap menjadi susu
Kita yang tak berhati akan
mati
Mati karena darah setan yang
mengalir pada setiap sendi
Saat itu kita hanya perlu menunduk
memandangi batu-batu kecil di hadapan kita
Dengan membaca basmalah
ambillah batu-batu kecil itu
Kemudian seperti Ibrahim lemparkan
ke muka setan
Setan yang menjanjikan
kemuliaan bagi para pecinta dunia
Setan yang menjanjikan
keabadian bagi para pendosa
Setan yang menjanjikan
kehinaan bagi para pelaku kebaikan
Setan yang tak
pernah bersyukur
Setan yang tak pernah puas
Akhirnya , kita bagaikan
bayi yang terlahir kembali
Menyongsung kehidupan baru
di masa yang baru
Dan pada akhirnya kita adalah
kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar